Minggu, 20 Februari 2011

JENIS-JENIS ALGORITMA


Terdapat beragam klasifikasi algoritma dan setiap klasifikasi mempunyai alasan tersendiri. Salah satu cara untuk melakukan klasifikasi jenis-jenis algoritma adalah dengan memperhatikan paradigma dan metode yang digunakan untuk mendesain algoritma tersebut. Beberapa paradigma yang digunakan dalam menyusun suatu algoritma akan dipaparkan dibagian ini. Masing-masing paradigma dapat digunakan dalam banyak algoritma yang berbeda.
§  Divide and Conquer, paradigma untuk membagi suatu permasalahan besar menjadi permasalahan-permasalahan yang lebih kecil. Pembagian masalah ini dilakukan terus menerus sampai ditemukan bagian masalah kecil yang mudah untuk dipecahkan. Singkatnya menyelesaikan keseluruhan masalah dengan membagi masalah besar dan kemudian memecahkan permasalahan-permasalahan kecil yang terbentuk.
§  Dynamic programming, paradigma pemrograman dinamik akan sesuai jika digunakan pada suatu masalah yang mengandung sub-struktur yang optimal (, dan mengandung beberapa bagian permasalahan yang tumpang tindih . Paradigma ini sekilas terlihat mirip dengan paradigma Divide and Conquer, sama-sama mencoba untuk membagi permasalahan menjadi sub permasalahan yang lebih kecil, tapi secara intrinsik ada perbedaan dari karakter permasalahan yang dihadapi.
§  Metode serakah. Sebuah algoritma serakah mirip dengan sebuah Pemrograman dinamik, bedanya jawaban dari submasalah tidak perlu diketahui dalam setiap tahap; dan menggunakan pilihan "serakah" apa yang dilihat terbaik pada saat itu.



Jenis-jenis algoritma penjadwalan adalah sebagai berikut :
1.  Nonpreemptive, menggunakan konsep :
a. FIFO (First In First Out) atau FCFS (First Come First Serve)
b. SJF (Shortest Job First)
c. HRN (Highest Ratio Next)
d. MFQ (Multiple Feedback Queues)

2.  Preemptive, menggunakan konsep :
a. RR (Round Robin)
b. SRF (Shortest Remaining First)
c. PS (Priority Schedulling)
d. GS (Guaranteed Schedulling)
Klasifikasi lain selain berdasarkan dapat/tidaknya suatu proses diambil secara paksa adalah klasifikasi berdasarkan adanya prioritas di proses-proses, yaitu :

1.  Algoritma penjadwalan tanpa berprioritas.
2.  Algoritma penjadwalan berprioritas, terdiri dari :
a. Berprioritas static
b. Berprioritas dinamis

Algoritma Nonpreemptive

1)      First In First Out (FIFO)
First In First Out (FIFO) merupakan penjadwalan tidak berprioritas. FIFO adalah penjadwalan paling sederhana, yaitu proses-proses diberi jatah waktu pemroses berdasarkan waktu kedatangan. Pada saat proses mendapat jatah waktu pemroses, proses dijalankan sampai selesai.


2)      Shortest Job First (SJF)
Penjadwalan ini mengasumsikan waktu berjalannya proses sampai selesai telah diketahui sebelumnya. Mekanismenya adalah menjadwalkan proses dengan waktu jalan terpendek lebih dulu sampai selesai, sehingga memberikan efisiensi yang tinggi dan turn around time rendah dan penjadwalannya tak berprioritas.

3)      Highest Ratio Next (HRN)
Highest Ratio Next merupakan strategi penjadwalan dengan prioritas proses tidak hanya berdasarkan fungsi waktu layanan tetapi juga jumlah waktu tunggu proses. Begitu proses mendapat jatah pemroses, proses berjalan sampai selesai.
Prioritas dinamis HRN dihitung berdasarkan rumus : Prioritas = (waktu tunggu + waktu layanan ) / waktu layanan Karena waktu layanan muncul sebagai pembagi, maka job lebih pendek berprioritas lebih baik, karena waktu tunggu sebagai pembilang maka proses yang telah menunggu lebih lama juga mempunyai kesempatan lebih bagus. Disebut HRN, karena waktu tunggu ditambah waktu layanan adalah waktu tanggap, yang berarti waktu tanggap tertinggi yang harus dilayani.

4)      Multiple Feedback Queues (MFQ)
Merupakan penjadwalan berprioritas dinamis. Penjadwalan ini untuk mencegah (mengurangi) banyaknya swappingdengan proses-proses yang sangat banyak menggunakan pemroses (karena menyelesaikan tugasnya memakan waktu lama) diberi jatah waktu (jumlah kwanta) lebih banyak dalam satu waktu. Penjadwalan ini juga menghendaki kelas-kelas prioritas bagi proses-proses yang ada. Kelas tertinggi berjalan selama satu kwanta, kelas berikutnya berjalan selama dua kwanta, kelas berikutnya berjalan empat kwanta, dan seterusnya. Ketentuan yang berlaku adalah sebagai berikut :
      Jalankan proses pada kelas tertinggi.
      Jika proses menggunakan seluruh kwanta yang dialokasikan, maka diturunkan kelas prioritasnya.
      Proses yang masuk untuk pertama kali ke sistem langsung diberi kelas tertinggi.
Mekanisme ini mencegah proses yang perlu berjalan lama swapping berkali-kali dan mencegah proses-proses interaktif yang singkat harus menunggu lama.

Algoritma Preemptive

1)      Round Robin (RR)
Merupakan :
·         Penjadwalan yang paling tua, sederhana, adil, banyak digunakan algoritmanya dan mudah diimplementasikan.
·         Penjadwalan ini bukan dipreempt oleh proses lain tetapi oleh penjadwal berdasarkan lama waktu berjalannya proses (preempt by time).
·         Penjadwalan tanpa prioritas.
·         Berasumsi bahwa semua proses memiliki kepentingan yang sama, sehingga tidak ada prioritas tertentu. Semua proses dianggap penting sehingga diberi sejumlah waktu oleh pemroses yang disebut kwanta (quantum) atau time slice dimana proses itu berjalan.Jika proses masih running sampai akhir quantum, maka CPU akan mempreempt proses itu dan memberikannya ke proses lain. Penjadwal membutuhkannya dengan memelihara daftar proses dari runnable. Ketika quantum habis untuk satu proses tertentu, maka proses tersebut akan diletakkan diakhir daftar (list).

2)      Shortest Remaining First (SRF)
Merupakan :
• Penjadwalan berprioritas.dinamis.
• preemptive untuk timesharing
• Melengkapi SJF
Pada SRF,  proses dengan sisa waktu jalan diestimasi terendah dijalankan, termasuk proses-proses yang baru tiba.Pada SJF, begitu proses dieksekusi, proses dijalankan sampai selesai.Pada SRF, proses yang sedang berjalan (running) dapat diambil alihproses baru dengan sisa waktu jalan yang diestimasi lebih rendah.
Kelemahan :
      Mempunyai overhead lebih besar dibanding SJF. SRF perlu penyimpanan waktu layanan yang telah dihabiskan job dan kadang-kadang harus menangani peralihan.
      Tibanya proses-proses kecil akan segera dijalankan.
      Job-job lebih lama berarti dengan lama dan variasi waktu tunggu lebih lama dibanding pada SJF.
SRF perlu menyimpan waktu layanan yang telah dihabiskan , menambah overhead. Secara teoritis, SRF memberi waktu tunggu minimum tetapi karena overhead peralihan, maka pada situasi tertentu SFJ bisa memberi kinerja lebih baik dibanding SRF.

3). Priority Schedulling (PS)
Setiap proses diberi prioritas dan proses yang berprioritas tertinggi mendapat jatah waktu lebih dulu (running). Diasumsikan bahwa masing-masing proses memiliki prioritas tertentu, sehingga akan dilaksanakan berdasar prioritas yang dimilikinya. Ilustrasi yang dapat memperjelas prioritas tersebut adalah dalam komputer militer, dimana proses dari jendral berprioritas 100, proses dari kolonel 90, mayor berprioritas 80, kapten berprioritas 70, letnan berprioritas 60 dan seterusnya. Dalam UNIX perintah untuk mengubah prioritas menggunakan perintah nice. Pemberian prioritas diberikan secara:
1)      Statis (Static Priorities) berarti prioritas tidak berubah.
Keunggulan :
      Mudah diimplementasikan.
      Mempunyai overhead relatif kecil.
Kelemahan :
      Tidak tanggap terhadap perubahan lingkungan yang mungkin menghendaki penyesuaian prioritas.
2)      Dinamis (Dynamic Priorities) merupakan mekanisme untuk menanggapi perubahan lingkungan system beroperasi. Prioritas awal yang diberikan ke proses mungkin hanya berumur pendek setelah disesuaikan ke nilai yang lebih tepat sesuai lingkungan.
Kelemahan :
Implementasi mekanisme prioritas dinamis lebih kompleks dan mempunyai overhead lebih besar. Overhead ini diimbangi dengan peningkatan daya tanggap sistem.
Contoh penjadwalan berprioritas :
Proses-proses yang sangat banyak operasi masukan/keluaran menghabiskan kebanyakan waktu menunggu selesainya operasinya masukan/keluaran. Proses-proses ini diberi prioritas sangat tinggi sehingga begitu proses Memerlukan pemroses segera diberikan, proses akan segera memulai permintaan masukan/keluaran berikutnya sehingga menyebabkan proses blocked menunggu selesainya operasi masukan/keluaran. Dengan demikian pemroses dapat dipergunakan proses-proses lain. Proses-proses I/O berjalan paralel bersama proses-proses lain yang benar-benar memerlukan pemroses, sementara proses-proses I/O itu menunggu selesainya operasi DMA.
Proses-proses yang sangat banyak operasi I/O-nya, kalau harus menunggu lama untuk memakai pemroses (karena prioritas rendah) hanya akan membebani memori, karena harus disimpan tanpa perlu proses-proses itu dimemori karena tidak selesai-selesai menunggu operasi masukan dan menunggu jatah pemroses.

4)   Guaranteed Schedulling (GS)
Penjadwalan ini memberikan janji yang realistis (memberi daya pemroses yang sama) untuk membuat dan menyesuaikan performance adalah jika ada N pemakai, sehingga setiap proses (pemakai) akan mendapatkan 1/N dari daya pemroses CPU. Untuk mewujudkannya, sistem harus selalu menyimpan informasi tentang jumlah waktu CPU untuk semua proses sejak login dan juga berapa lama pemakai sedang login. Kemudian jumlah waktu CPU, yaitu waktu mulai login dibagi dengan n, sehingga lebih mudah menghitung rasio waktu CPU. Karena jumlah waktu pemroses tiap pemakai dapat diketahui, maka dapat dihitung rasio antara waktu pemroses yang sesungguhnya harus diperoleh, yaitu 1/N waktu pemroses seluruhnya dan waktu pemroses yang telah diperuntukkan proses itu. Rasio 0,5 berarti sebuah proses hanya punya 0,5 dari apa yang waktu CPU miliki dan rasio 2,0 berarti sebuah proses hanya punya 2,0 dari apa yang waktu CPU miliki. Algoritma akan menjalankan proses dengan rasio paling rendah hingga naik ketingkat lebih tinggi diatas pesaing terdekatnya. Ide sederhana ini dapat diimplementasikan ke sistem real-time dan memiliki penjadwalan berprioritas dinamis.


Referensi :

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Algoritma
  2. http://blog.unsri.ac.id/yudho/welcome/jenis-jenis-algoritma-penjadwalan/mrdetail/5372/



Sabtu, 19 Februari 2011

ALGORITMA PROGRAM TEKNIK ELEKTRO

NOTASI ALGORITMA

Algoritma dapat ditulis kedalam tiga bentuk yaitu dalam untaian kalimat deskriptif, diagram alut (Flow Chart), dan Psudo-code (kode semu).

Kalimat Deskriptif
Penulisan Algoritma dengan kalimat deskriptif selalu terdiri dari kepala algoritma dan deskripsi algoritma. Kepala algoritma merupakan judul dari algoritmayang dibuat. Deskripsi algoritma yaitu bagian inti algoritma yang berisikan uraiandari langkah-langkah penyelesaian suatu masalah.

Diagram Alir (Flowchart)
Diagram alir (flowchart) adalah alat untuk memeriksa suatu proses. Diagram Alir(Flwchart) merupakan bentuk grafis/visual dari algoritma. Bentuk-bentuk darisimbol-simbol dalam diagram alir:


Paseudo-Code
Pseudo-code merupakan cara untuk menerangkan suatu algoritma denganmenggunakan tata cara penulisan bahasa pemrograman tertentu. Sebagaimananamanya, pseudo-code tidak dapat dieksekusi langsung pada komputer, tetapimerupakan model dan harus diubah menjadi kode pemrograman yang sebenarnya.




ATURAN PENULISAN TEXT ALGORITMA

Tidak ada notasi yang baku dalam penulisan teks algoritma. Algoritma bukanlah program yang harus mengikuti aturan-aturan tertentu tetapi dituliskan mendekati gaya bahasa pemrograman secara umum. Teks algortima disusun dalam 3 bagian, yaitu:




a.       Bagian Kepala Algoritma
Kepala algoritma terdiri dari nama algoritma yang berisi penjelasan tentang algoritma yang menguraikan secara singkat hal-hal yang dilakukan oleh algoritma.



b.      Bagian Deklarasi
Berisi semua nama yang digunakan, meliputi nama-nama tipe, konstanta, variable dan sub program.



c.       Bagian Deskripsi Algortima
Berisi semua langkah-langkah atau aksi untuk menyelesaikan masalah. Algoritma dibaca dari atas ke bawah.



Setiap bagian disertai dengan penjelasan atau dokumentasi tentang maksud pembuatan teks. Bagian penjelasan dituliskan di dalam kurung kurawal {}.
Contoh: algoritma untuk menghitung luas lingkaran
Algoritma luas_lingkaran {kepala program}
{bagian deklarasi}
Const
            Phi ß 3.14
Var
            R, L : Real;
{bagian deskripsi}
Begin
            {input data R}
Read(R)
            {proses}
            If R<= 0 then
write(“Data Salah”)
            else
                        L ß phi * R * R
            End if
            {output}
            Write (L)
End.




Teks algoritma berisi deskripsi langkah-langkah penyelesaian masalah. Deskripsi tersebut dapat ditulis dalam notasi apa pun, asalkan mudah dibaca dan dimengeri. Tidak ada notasi yang baku dalam penulisan teks algoritma sebagaimana pada notasi bahasa pemrograman. Tiap orang dapat membuat aturan penulisan dan notasi algoritma sendiri. Hal ini dapat dimengerti karena teks algoritma tidak sama dengan teks program. Program adalah implementasi algoritma dalam notasi bahasa pemrograman tertentu. Namun, agar notasi algoritma mudah ditranslasikan ke dalam notasi bahasa pemrograman, maka sebaiknya notasi algoritma tersebut berkoresponden dengan notasi bahasa pemrograman secara umum. Sebagai contoh, perintah:


tulis nilai x dan y

dalam notasi algoritma menjadi:

write (x, y)

Notasi write ini berarti x dicetak ke piranti keluaran. Tidak penting apakah x dan y ditulis ke layar atau ke printer atau ke piranti keluaran yang lain. Selain itu, di dalam algoritma kita tidak mempersoalkan format tampilan keluaran, misalnya apakah hasil penulisan antara x dan y dipisah dengan spasi atau dengan koma, juga apakah x dan y dicetak di dalam baris yang sama atau tidak, dan lain-lain. Hal-hal teknis semacam itu baru dipikirkan pada saat translasi algoritma menjadi program. Dengan demikian notasi algoritma benar-benar abstraksi dari notasi bahasa pemrograman.

Notasi "write" di dalam algoritma berkoresponden dengan write atau writeln dalam bahasa pascal printf dalam bahasa C, write dalam bahasa Basic atau write dalam bahasa Fortran, Selain itu pada beberapa bahasa pemrograman seperti pascal dan C, antara setiap instruksi dipisahkan dengan tanda ";" (semicolon). Jadi, translasi write (x) ke dalam masing-masing bahasa tersebut adalah (dengan anggapan piranti keluarannya adalah layar):

writeln (x,y); (dalam bahasa PASCAL)

Printf ("%d %d",x,y); /* dalam bahasa C */

write.x.y dalam bahasa BASIC

C dalam bahasa FORTRAN
write (*,*) x,y


Referensi :

  1. http://prihastomo.files.wordpress.com/2008/02/algoritma.pdf
  2. http://kur2003.if.itb.ac.id/file/IF1281_TEKSALGO.pdf
  3. http://soniwibawa.blogspot.com/2008/04/dasar-aturan-penulisan-text-algoritma.html
  4. http://www.unsri.ac.id/upload/arsip/ALGORITMA,%20PEMROGRAMAN%20DAN%20BAGAN%20ALIR.pdf
  5. http://www.robetzsambhera.co.cc/2010/12/bab-ii-algoritma.html


Minggu, 13 Februari 2011

ALGORITMA DAN PEMROGRAMAN


a.    Pengertian Algoritma

Dalam matematika dan komputasi, algoritma atau algoritme merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap dari awal hingga akhir. Masalah tersebut dapat berupa apa saja, dengan catatan untuk setiap masalah, ada kriteria kondisi awal yang harus dipenuhi sebelum menjalankan algoritma. Algoritma akan dapat selalu berakhir untuk semua kondisi awal yang memenuhi kriteria, dalam hal ini berbeda dengan heuristik. Algoritma sering mempunyai langkah pengulangan (iterasi) atau memerlukan keputusan (logika Boolean danperbandingan) sampai tugasnya selesai.
Algoritma adalah kumpulan urutan perintah yang menentukan operasi-operasi tertentu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu masalah ataupun mengerjakan suatu tugas tertentu. Algoritma merupakan urutan langkah instruksi yang logis. Setiap langkah instruksi mengerjakan suatu tindakan aksi. Apabila suatu aksi dilaksanakan, maka operasi atau sejumlah operasi yang bersesuaian dengan aksi itu dikerjakan oleh pemroses. Bila data yang digunakan benar, maka algoritma akan selalu berhenti dengan memberikan hasil yang benar pula.
Pembuatan algoritma harus selalu dikaitkan dengan :
a. kebenaran algoritma, yakni bila program selesai maka hasilnya juga benar
b. kompleksitas, lama dan jumlah waktu proses dan penggunaan
Desain dan analisis algoritma adalah suatu cabang khusus dalam ilmu komputer yang mempelajari karakteristik dan performa dari suatu algoritma dalam menyelesaikan masalah, terlepas dari implementasi algoritma tersebut. Dalam cabang disiplin ini algoritma dipelajari secara abstrak, terlepas dari sistem komputer atau bahasa pemrograman yang digunakan. Algoritma yang berbeda dapat diterapkan pada suatu masalah dengan kriteria yang sama.
Kompleksitas dari suatu algoritma merupakan ukuran seberapa banyak komputasi yang dibutuhkan algoritma tersebut untuk menyelesaikan masalah. Secara informal, algoritma yang dapat menyelesaikan suatu permasalahan dalam waktu yang singkat memiliki kompleksitas yang rendah, sementara algoritma yang membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan masalahnya mempunyai kompleksitas yang tinggi.

 
b.   Pengertian Pemrograman

Pemrograman adalah proses menulis, menguji dan memperbaiki (debug), dan memelihara kode yang membangun sebuah program komputer. Kode ini ditulis dalam berbagai bahasa pemrograman. Tujuan dari pemrograman adalah untuk memuat suatu program yang dapat melakukan suatu perhitungan atau 'pekerjaan' sesuai dengan keinginan si pemrogram. Untuk dapat melakukan pemrograman, diperlukan keterampilan dalam algoritma, logika, bahasa pemrograman, dan di banyak kasus, pengetahuan-pengetahuan lain seperti matematika.
Pemrograman adalah sebuah seni dalam menggunakan satu atau lebih algoritma yang saling berhubungan dengan menggunakan sebuah bahasa pemrograman tertentu sehingga menjadi sebuah program komputer. Bahasa pemrograman yang berbeda mendukung gaya pemrograman yang berbeda pula. Gaya pemrograman ini biasa disebut paradigma pemrograman.
Apakah memprogram perangkat lunak lebih merupakan seni, ilmu, atau teknik telah lama diperdebatkan. Pemrogram yang baik biasanya mengkombinasikan tiga hal tersebut, agar dapat menciptakan program yang efisien, baik dari sisi waktu berjalan (running time), atau memori.


Referensi :

1. Judul : struktur data & pemrograman dengan pascal

2. Judul : logika algoritma dan implementasinya dlm bahasa python di gnu/linux